ARKEOLOGI PULAU TERDEPAN: TINJAUAN POTENSI PURBAKALA DI PULAU SELARU MALUKU TENGGARA BARAT (Archaeology of Outermost Island: The Potential Overview in Selaru Island West Southeast Moluccas Indonesia)


Copyright (c) 2017 Jurnal Penelitian Arkeologi Papua Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Article Info
Submitted: 2017-07-31
Published: 2017-07-31
Section: Articles

Selaru Is one of the 92 outermost Islands In Indonesia. Geographically located in the TanlmbarArchipelago, Selaru is one of the southeastemmost island of Indonesia which is closely located to Australia. A condtion that present the strategic value in terms of politics and academics for this area. Unfortunately, despite the importance of this Island, very limited archaeological and cultural historical study has been conducted In Selaru. This paper is a prelimenary overview of archaeological potential in one of the country frontline. The reconaissance survey has been adopted as an approach in this research. The results shows that Selaru is a potential region to be developed in the framework of archaeology and cultural history of the region. Includes, the cultural study to develop the border area of Indonesia.

 

Abstrak

Pulau Seiaru adalah salah satu dan 92 pulau terdepan di Indonesia. Terletak di Kepulauan Tanlmbar; Selaru menjadl salah satu pulau terselatan Nusantara yang paling dekat dengan daratan Australia. Hal mana memberi nilai strategis secara politis dan akademis bagi wilayah ini. Meski dengan nilai penting sedemikian, belum banyak perhatian dari studi arkeologi dan sejarah budaya bagi Pulau Selaru. Makalah ini merupakan tinjauan awal atas potensi arkeologi yang ada di salah satu wilayah teras negara ini. Pendekatan peneiitian dilakukan dengan menggunakan metode survei penjajakan. Hasil studi menemukan bahwa Selaru memiliki potensi dalam kerangka studi arkeologi dan sejarah budaya kawasan. Termasuk dalam kaitan dengan kajian budaya untuk pengembangan kawasan perbatasan.


Keywords

rchaeology, Outermost islands, Selaru

  1. Marion Ririmasse 
    Balai Arkeologi Ambon , Indonesia

Aryanto, Gesit. 2009. “193 Titik Dasar, 92 Pulau Terluar” dalam Kompas 7 November 2009

Birdsell, J.B. (1977). “The Recalibration of a Paradigm for the First Peopling of Greater Australia”, in J .Allen, J Golson, and R. Jones (eds.) Sunda and Sahul, p. 113-167.

De Jonge, N and van Dijk, T. 1995. Forgotten Islands of Indonesia: The Art and Culture of the Southeast Mollucas. Singapore: Periplus.

Lape, P. 2006. “Chronology of fortified sites in East Timor” In Journal of Island and Coastal Archaeology 1. pp. 285-297.

Le Bar, F. M. 1976. Insular Southeast Asia: Ethnographic Studies. Connecticut: New Haven.

Me Kinnon, S. 1988. “Tanimbar Boats,” dalam Islands and Ancestors: Indigenous Styles of Southeast Asia (eds J. P Barbier and D. Newton). New York: The Metropolitan Museum of Art. p. 152-169.

Miller, George. 2012. Indonesia Timur Tempo Doeloe. Jakarta: Komunitas Bambu

Retraubun, Alex. 2006. “Mengapa Terluar bukan Terdepan” dalam Kompas 20 September 2006.

Ririmasse, M. 2005. “Jejak dan Prospek Penelitian Arkeologi di Maluku” dalam Kapata Arkeologi Volume 1 No. 1. Balai Arkeologi Ambon.

Ririmasse, M. 2007. “Peneiitian Arkeologi di Desa Lingat Pulau Selaru Kabupaten Maluku Tenggara Barat". Berita Peneiitian Arkeologi Volume 3 No. 4. Balai Arkeologi Ambon.

Ririmasse, M. 2007b. “Fragmen Moko dari Selaru: Temuan Barn Artefak Logam di Maluku”. Berita Penelitian Arkeologi Volume 3 No. 5. Balai Arkeologi Ambon.

Ririmasse, M. 2008. “Visualisasi Tema Perahu dalam Rekayasa Situs Arkeologi di Maluku”. Naditira Widya Volume 2 No. 1. Balai Arkeologi Banjarmasin.

Ririmasse, M. 2008b. “Archaeology Goes to School: Mengemas Pengetahuan Warisan Budaya sebagai Muatan Lokal”. Pertemuan llmiah Arkeologi XI Solo, 13-16 Juni 2008.

Ririmasse, M. 2010. “Arkeologi Pulau-Pulau Terdepan di Maluku: Sebuah Tinjauan Awal”. Kapata Arkeologi Vol 6 No 12. Balai Arkeologi Ambon.

Ririmasse, M. 2011. “Laut untuk Semua: Materialisasi Budaya Bahari di Kepulauan Maluku Tenggara”. Makalah disampaikan dalam Evaluasi Hasil Peneiitian Arkeologi 2011. Banjarmasin.

Spriggs, M. 1998b. “Research questions in Maluku archaeology” dalam Cakalele 9: 49-62.

Tanudirdjo, D. 2005. “The dispersal of Austronesian-speaking People and the Ethnogenesis of Indonesian People" in Austronesian Diaspora and the Ethnogeneses of People in Indonesian Achipelago. Jakarta: LIPI Press.

Wibawa, Soni Prasetya. 2002. “Monumen Natar di Desa Sangliat Dol, Pulau Yamdena, Kepulauan Tanimbar, Maluku: Fungsi dan Kedudukannya dalam Konteks Pemukiman Tradisional". Skripsi. Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Tidak diterbitkan.

Zuhdi, Susanto. 2006. “Mengapa Bukan Pulau Terdepan” dalam Kompas 8 September 2006.