PERAN PEREMPUAN DALAM BUDAYA MARITIM WAROPEN [The Role of Women in the Culture of Maritime in Waropen]


Copyright (c) 2018 Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Article Info
Submitted: 2018-05-22
Published: 2018-05-30
Section: Articles

In Waropen livelihood, women in connected maritime tradition play roles in providing food for their family In related to the title, there are some problems deal with the women’s roles in Waropen maritime tradition that can be formulated as follows: How are the roles of women in Waropen maritime tradition, what values revealed in maritime tradition. The research applies etnoarcheolgical approach by using some techniques: bibliographical study, observation, and interview. Those collected data are then described, analyzed, interpreted, and concluded. The results show that there are three main livelihood, i.e., processing sagoo, cathing fish (by men), cathing crabs (by men), and gathering seashells (by men). While women’s roles follow the knowledge system of maritime tradition: time, season, wind, and stars. To go to the location of sagoo processing, shrimps and seashells gathering, Waropen women use canoes without leeboard. In local language it is called sewado. Through the roles of Waropen women in maritime tradition, there are some beneficial socio-cultural values, i.e. being religious, corporation, independence, discipline, hard work, creativity, and care to nature.

 

 

ABSTRAK

Peran serta perempuan Waropen dalam sistem mata pencaharian hidup berkaitan dengan tradisi maritim, perempuan bertanggung jawab penuh untuk menyiapkan makanan bagi keluarganya. Berkaitan dengan judul, ada beberapa permasalahan yang muncul berkaitan dengan peran perempuan dalam budaya maritim Waropen, yang dapat dirumuskan sebagai berikut: Bagaimana peran perempuan dalam budaya maritim di Waropen?, nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam budaya maritim tersebut?. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnoarkeologi dengan menggunakan beberapa teknik yaitu: studi pustaka, observasi, wawancara. Setelah semua data yang dibutuhkan terkumpul kemudian dideskripsikan, dianalisis dan diinterpretasikan, dan ditarik suatu kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan ada tiga macam mata pencaharian utamanya yaitu meramu sagu, menangkap ikan (dilakukan oleh lakilaki), menangkap kepiting dan mengumpulkan atau kerang, berburu (dilakukan oleh perempuan). Sementara itu, perempuan Waropen mengikuti sistem pengetahuan budaya maritim seperti sistem pengetahuan mengenai waktu, musim, angin dan bintang. Untuk ke lokasi tempat mencari seperti menokok sagu, mencari keping, udang dan bia, perempuan Waropen menggunakan perahu tak bercadik yang disebut dengan sewado. Melalui peran perempuan Waropen dalam budaya maritim, termuat nilai-nilai sosial-budaya yang berguna dalam kehidupan, yaitu nilai religius, gotong royong atau kerjasama, kemandirian, disiplin, kerja keras, kreatif, dan peduli lingkungan.

Keywords

Roles; Women; Tradition; Maritime; Waropen; Peran; Perempuan; Budaya; Maritim; Waropen

  1. Rini Maryone 
    Balai Arkeologi Papua Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan , Indonesia

Berry John W, dkk. 1999. Psikologi Litas Budaya : Riset dan Aplikasi Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama.

Haviland, William A. 1988. Antropologi 2 (diterjemahkan oleh R.G Soekadijo). Surakarta: Penerbit Erlangga.

Maryone, Rini. 2007. Sistem Mata Pencaharian Etnis Waropen di Distrik Urei- Faisey dan Distrik Waropen Bawah. Balai Arkeologi Jayapura.

Modouw, Yektiningtyas Wigati. 2008. Herlaehili dan Ehabla. Fungsinya dan Peran Perempuan dalam Masyarakat Sentani Papua. Jogjakarta: Adicita Karya Nusa.

Redaksi, Dewan 2008. Metode Penelitian Arkeologi. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional.

Revassy, L dkk. 1982. Sistem Ekonomi Tradisional sebagai Perwujudan Tanggapan Atif Terhadap Lingkungan. Jayapura: Kanwil Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sanggenafa, Naffi. 1993. Masyarakat Waropen di Pantai Timur Teluk Cenderawasih dalam Irian Jaya Membangun Masyarakat Majemuk. Jakarta: PT Djambatan.

Sanggenafa, Naffi. 1993. ”Suku Bangsa Waropen, sebuah Etnografi” Etnografi Irian Jaya, Panduan Sosial Budaya, Buku I, Kelompok Peneliti Etnografi Irian Jaya.

Soejono, R. P. 2000. Aspek-Aspek Arkeologi Indonesia No 5. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Pusat Arkeologi.

Susanti, B.M. 2000. Penelitian tentang Perempuan dan pandangan Androsentris ke Prespektif Gender dalam Ekspresi dari Bias Lelaki Munuju kesetaraan gender. Yogyakarta: Lembaga Penelitian Institut Seni Indonesia.