SENI TATAH SUNGGING DESA KEPUHSARI SEBAGAI WARISAN BUDAYA DI KABUPATEN WONOGIRI [The Arts of Tatah Sungging Kepuhsari Village As A Cultural Heritage in Wonogiri Regency]


Copyright (c) 2018 Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Article Info
Submitted: 2018-05-22
Published: 2018-05-30
Section: Articles

The art of puppet making known in the community with tatah sungging art. In current society the tatah sungging art increasingly marginalized by the development era. This study used descriptive qualitative method. Initially tatah sungging art in the Kepuhsari village carried by a puppeteer named Ki Guno Wasito which was later revealed to posterity who subsequently developed in the community of Kepuhsari village. Tatah sungging art in the making of the puppet is a combination of the tatah (chisel) and sungging (coloring). The values contained in the tatah sungging art that is the economic values, moral / educational values, cultural and artistic value, historical value and cultural preservation. This values are deeply embedded in society

 

 

ABSTRAK

Seni pembuatan wayang dikenal dimasyarakat dengan seni tatah sungging. Dalam masyarakat saat ini seni tatah sungging semakin terpinggirkan akibat perkembangan jaman. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan mengenai sejarah perkembangan seni tatah sungging di Desa Kepuhsari, teknologi pembuatan wayang kulit serta nilai-nilai yang terkandung dalam seni tatah sungging tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Awalnya seni tatah sungging di Desa Kepuhsari dibawa oleh seorang dalang bernama Ki Guno Wasito yang kemudian diturunkan ke anak cucunya dan selanjutnya berkembang di masyarakat Desa Kepuhsari. Seni tatah sungging dalam pembuatan wayang merupakan perpaduan dari tatah (pahat) dan sungging (mewarnai). Nilai-nilai yang terkandung dalam seni tatah sungging yaitu nilai ekonomi, nilai moral/edukatif, nilai seni dan budaya serta nilai historis dan pelestarian budaya. Nilai-nilai tersebut melekat dalam kehidupan bermasyarakat.

Keywords

Puppet; Tatah Sungging Art; Kepuhsari Village; Wayang; Seni Tatah Sungging; Desa Kepuhsari

  1. Lilyk Eka Suranny 
    Bappeda dan Litbang Kabupaten Wonogiri , Indonesia

Dewan Riset Daerah Kabupaten Wonogiri. 2014. Menggali Potensi Industri Pariwisata Wayang Kulit dan Manajemen Usaha Berbasis Pendidikan Karakter di Kampung Wayang Kepuhsari. Wonogiri: Kantor Litbang Iptek.

Haryanto, S. 1988. Pratiwimba Adiluhung: Sejarah dan Perkembangan Wayang. Jakarta: Djambatan.

Moleong, Lexy. 2003. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Nawawi, H. 1983. Metode Penelitian Sosial. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Soedarsono. 2000. Metodologi Penelitian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa. Bandung: MSPI. Soedarsono. 2002. Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Sulaiman, M. 1998. Ilmu Budaya Dasar Suatu Pengantar. Bandung: Rafika Aditama.

Sunarto. 1989. Wayang Kulit Purwa Gaya Yogyakarta (Sebuah Tinjauan Tentang Bentuk, Ukiran, Sunggingan). Jakarta: Balai Pustaka.

Sutardjo, Imam. 2006. Serpihan Mutiara Pertunjukan Wayang. Surakarta: Jurusan Sastra Daerah FSSR UNS.

Tuloli, Nani. 2003. Dialog Budaya Wahana Pelestarian dan Pengembangan Kebudayaan Bangsa. Jakarta: CV.Mitra Sari.

Iswanto, Dodik, Romim Azizah dan Rini Hidayati. 2015. Sanggar Wayang Kulit Sebagai Wisata Budaya di Desa Kepuhsari Manyaran Wonogiri. Surakarta: Skripsi Universitas Muhammadiyah Surakarta.