PENGUBURAN CERUK DI KAWASAN TELUK WONDAMA

Main Article Content

Bau Mene

Abstract

Kawasan Teluk Wondama kaya akan tinggalan arkeologi khususnya ceruk-ceruk yang digunakan sebagai tempat penguburan. Penguburan sudah dikenal sejak jaman prasejarah. Penelitian bertujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk penguburan yang terdapat di kabupaten Teluk Wondama, khususnya Distrik Roon. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah deskriktif-eksplanatif. Hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh temuan berupa tengkorak dan tulang - tulang yang terdapat pada ceruk-ceruk. Temuan tulang-tulang dan tengkorak dalam ceruk menggambarkan bahwa penguburan yang dilakukan pada masa lampau pada masyarakat Kabupaten Teluk Wandama khususnya yang tinggal di Pulau Roon melakukan penguburan pada ceruk-ceruk karang yang terdapat di lingkungan sekitar mereka.. Penguburan dalam ceruk dimaksud disini adalah penguburan sekunder dengan cara meletakkan tulang-tulang dan tengkorak berjejer. menghadap ke mulut ceruk. Sistem penguburan ceruk di Kabupaten Teluk Wondama dilakukan secara tidak langsung (sekunder), dimana tulang-tulang dan tengkorak sebelum dimasukkan dalam ceruk sebelumnya mayat diletakkan diatas para-para yang agak jauh dari rumah setelah tinggal tulang  kemudian dibawa ke ceruk-ceruk yang terdapat pada lingkungan sekitar tempat tinggal.

Article Details

Section
Articles

References

DAFTAR PUSTAKA

Bernadetha, AKW, dkk, 1999. Bentuk-bentuk Wadah Kubur Kayu di Sulawesi Selatan dan Tenggara. Jurnal Walanae No 3/11 Juli 1999. Balai Arkeologi Makassar.

Fairyo, Klementin. 2012. Tradisi Penguburan dalam Gua dan Ceruk pada Masyarakat Web. Jurnal arkeologi Papua TH.IV No.2 November 2012. Balai Arkeologi Jayapura.

Fairyo, Klementin. 2013. Keramik dalam Ritus Penguburan pada Masyarakat Napan Wainami Kabupaten Nabire. Jurnal arkeologi Papua Volume V No.1 Juni 2013. Balai Arkeologi Jayapura.

Harkatiningsih, Naniek, dkk. 1999. Metode Penelitian Arkeologi. Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional. Departemen Pendidikan Nasional.

Kawer, Sonya M, 2011. Pemanfaatan Ceruk Sirebi Seiwu Sebagai Tempat Penguburan di Kampung Kamarisano, Distrik Wapoga, Kabupaten Waropen. Jurnal Arkeologi Papua TH. III No.2/ November 2011. Balai arkeologi Jayapura.

Maryone, Rini. 2012. Peninggalan Arkeologi Masa Awal Holosen di Kawasan Gunung Tukum Lembah Baliem Kabupaten Jayawijaya. Jurnal Arkeologi Papua TH.IV No. 2/ November 2012.

Mene, Bau 2016 . Pengaruh Budaya Austronesia di Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat. Laporan, Balai Arkeologi Papua. Belum terbit.

Prasetyo, Bagyo dkk. 2004. Religi pada Masyarakat Prasejarah di Indonesia. Proyek Penelitian dan Pengembangan Arkeologi. Jakarta; Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Poesponegoro Djoened Marwati, Nugroho Notosusanto. 1993. Sejarah Nasional Indonesia. Jakarta. Balai Pustaka

Soejono, R.P. Sistem-sistem Penguburan pada Akhir Masa Prasejarah di Bali. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional.

Salhuteru, Marlyn. 2008. Tradisi Penguburan Prasejarah di Desa Aboru Pulau Haruku Maluku Tengah. Kapata Arkeologi Vol 2 No 2 Juli 2008. Balai Arkeologi Ambon.

Sugianto, Bambang. 2017. Kubur dan Manusia Prasejarah di Pegunungan Meratus, Provinsi Kalimantan Selatan. Jurnal Kebudayaan, Volume 12, Nomor 2, Desember 2017. Jakarta. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.