TRADISI RATAPAN (HELAEHILI) MASYARAKAT SENTANI, PAPUA

Main Article Content

Wigati Yektiningtyas

Abstract

Tradisi ratapan (helaehili)  adalah kebiasaan masyarakat Sentani meratapi orang yang meninggal dalam perkabungan. Helaehili  ini dilantunkan secara spontan dalam bahasa Sentani. Akan tetapi, ratapan ini sudah tidak dipraktikkan lagi seiring dengan hilangnya para pelantun heleahili dan tidak ada pewarisannya. Studi ini membahas (1) mengapa ada tradisi ratapan? (2) cara pelantunan ratapan (3) pentingnya pewarisan tradisi ratapan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan kelompok diskusi terfokus dengan para informan, yaitu para pemangku adat, tua-tua adat dan para sesepuh Sentani di wilayah Sentani Timur dan Sentani Tengah pada tahun 2019. Studi menggunakan pendekatan sosial budaya dan menyimpulkan bahwa (1) ratapan (helaehili) dilantunkan sebagai ungkapan duka masyarakat Sentani yang “menolak” adanya kematian, rasa kehilangan dan hormat kepada yang meninggal, (2) lantunan dilakukan oleh orang tertentu, spontan, menggunakan bahasa Sentani tinggi,  dan formula tertentu, (3) pewarisan helaehili penting karena lantunan ini sarat akan filosofi, pengetahuan tradisional, sejarah, nilai sosial-budaya, dan berbagai pesan moral sebagai identitas masyarakat Sentani.

Article Details

Section
Articles

References

DAFTAR PUSTAKA

Danandjaja, James. 2002. Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain-lain. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Devianty, Rina. 2017. “Peran Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah dalam Pendidikan, Karakter” dalam Jurnal Unisu Vol. 1 (2), hlm. 1-27.

Finnegan, Ruth. 1977. Oral Poetry: Its Nature, Significance and Social Context. Bloomington: Indiana University Press.

Finnegan, Ruth, 1992. Oral Tradition and Verbal Art: A Guide to Research Practice. London: Routledge.

Flora, Hotmaida dan W.E. Tinambunan. 2014. “Makna Simbol Andung (Ratapan) dalam Upacara Pemakaman Adat Batak Toba di Pekanbaru” dalam Jom FISIP No 1 (2), hlm. 1-11.

Grobar, Lisa M. 2017. “Policies to Promote Employment and Preserve Cultural Heritage in the Handicraft Sector” dalam International Journal of Cultural Policy, Vol. 25 (4), hlm. 515-527

Knauft, Bruce M. 2002. From Primitive to Postcolonial in Melanesia and Anthropology. Ann Arbor: The University of Michigan Press.

Lord, Albert B. 1981. The Singers of Tales. London: Harvard University Press.

Luo, Jinge dan Feihu Chen. 2016. “Preservation of Traditional Culture in Modern Society: A Case Study of China Meishan Cultural Park” dalam Asia Pacific Jounal of Tourism Research, Vol 9 (4), hlm. 405-422.

Patendean, Mutiara, Wa Kuasa Baka, dan Siti Hermina. 2018. “Tradisi to ma’ Badong dalam Upacara Rambu Solo’ pada Suku Toraja” dalam Lisani: Jurnal Kelisanan Sastra dan Budaya, Vol. 1 (2), hlm. 131-139.

Rapa, Ones Kristiani dan Yurulina Gulo, 2020. “Ma’bulle Tomate: Memori Budaya Aluk Todolo pada Ritual Kematian di Gandangbatu, Toraja. Ma'bulle Tomate: Aluk Todolo's Cultural Memory of the Death Ritual in Gandangbatu, Toraja” dalam Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya (Journal of Social and Cultural Anthropology), Vol. 5 (2), hal 136-150.

Suroto, Hari, 2016. “Budaya Austronesia di Kawasan Danau Sentani”. Jurnal Arkeologi Papua, Vol. 8 (2), hlm. 121-128.

Suroto, Hari dan Erlin N. Idje Djami. 2018. “Bentuk Kehidupan Manusia Prasejarah di Situs Yomokho", Jurnal Arkeologi Papua, Vol. 10 (2), hlm. 169-177

Swingewood, Alan and Diana Laurenson. 1972. The Sociology of Literature. Paladine.

Tuan, Tran Huu dan Stale Navrud. 2008. “Capturing the benefits of preserving cultural heritage” dalam Journal of Cultural Heritage, Vol. 9 (3), hlm. 326-337.

Yektiningtyas-Modouw, Wigati. 2011. Helaehili dan Ehabla: Fungsinya dan Peran Perempuan dalam Masyarakat Sentani, Papua. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa

Yektiningtyas, Wigati dan Monika Gultom. 2018. “Exploring Sentani Folktales as Media of Teaching Local Language for Children” dalam Sino-US English Teaching, Vol. 15 (5), Halaman 223-235.

Yektiningtyas, Wigati dan Aleda Mawene. 2019. Ungkapan Tradisional Sentani: Dokumentasi dan Revitalisasi. Yogyakarta: UNY Press

Yektiningtyas-Modouw, Wigati. 2009. “Introducing Helaehili, an Oral Poems from Sentani” dalam CELT: A Journal of Culture, English Language and

Teaching, Vol 9 (1), hlm. 1-15.

Yektiningtyas, Wigati dan Izak Morin.2020. “Preserving Sentani Folklore to

Promote Creative Economy in Jayapura, Papua”dalam International Journal of Innovation, Creativity and Change (IJICC), Vol. 14 (1), hlm. 116-133